Kubiarkan Kau Menangis Bersedih

hah… hari yang melelahkan. Mengerjakan bertumpuk-tumpuk file membuat hidupku terasa disiksa. Bukannya aku mau mengeluh, tapi itulah kenyataannya.
Sesampai dirumah langsung ku berlari ke dapur. yups… membuka kulkas tentunya. Kuambil sebotol Pocari sweat lalu ku teguk habis sampai tetes terakhir. Moga saja seluruh energi ku terkumpul kembali, harap ku mengingat iklan (Pocari Sweat, Go Ion) .

*****

“… Jantung hatiku, kuletakan di jantung hatimu
ku rekatkan erat di nadimu, mengalir di darahmu
dan terbelenggu takkan pernah lekang oleh waktu
semakin melekat di pelukmu, sampai akhir aku… ”
— tenot– (bunyi tombol HP)
sembari ogah-ogahan ku raih HP ku yang terus berdering yang membuat ku terbangun dari rehat siang. tega banget ya, siapa sih yang gangguin istirahat siang ku.. ku coba membuka mataku yang masih mengantuk dan ku baca pesan yang masuk ..

“Ton, lg tdur y?
ntik sre jlan yu’ aq mw crhat neh..
jm 4.30 ku smperin di rmha mu y..
ga bsa nolak.. hruz… sambil tersenyum tipis ”

eah, selalu saja begitu.. Dia satu-satunya temen cewek ku yang gokil abiz. Kadang ngeselin, njengkelin sampai ngacangin juga.. heheh.. Tapi aku suka latar kehidupannya, humoris dan cuek saja..

“kira-kira mau curhat apa ya? hmmm. bikin penasaran saja..”
gumamku sambil menganbil handuk dan segera mandi.. mandi ayo mandi… he

*****

“ais… lama banget mu mandinya,… kaya cewe aja..”
aku cuek saja dengan sindiran halusnya yang sangat sering menghiasi kata-katanya kalo bicara.. yah.. itulah dia…
“yuk berangkat, mau kemana kita?”
aku langsung menunggangi Scopy putihnya, dan langsung mengajaknya jalan..
“hmmm…. pinggir jalan dekat sungai depan simpang aja ya…”

*****

pemandangan yang luar biasa baginya, tiap hari duduk disini. Menghabiskan waktu sore dipinggir sungai kecil. Entah apa yang ia pikirkan.
“Ton, sinilah… ”
sepertinya kali ini dia serius..
“ada apa sih? kok tegang amat?”
aku mencoba mencairkan suasana yang (hampir) hening
“sebenarnya… aku sangat menyukai mu.. ”
(tuez…) kaget aku setengah mati… belum sempat rasa kagetku hilang ..
“aku gak tau harus bilang apa, kau tau kan gimana rasa hatiku? ku tau kau tlah lama dengannya.. aku yang salah.. tak pandai menmpatkan diri..
maafkan aku…”
hening… ku hanya bisa menerka.. betapa remuknya hati yang disana.. dia sakit.. air matanya membuatku tak bisa berkata..
“aku… aku tak bisa menyakiti hatinya… maafkan aku… kusudah lebih dulu dengannya… maaf…”
kuberjalan meninggalkan dia yang terhenyuk di bangku itu..
dalam hati.. (maaf… ku tak bisa mendustai hatiku..)..
maaf…

“tunggu…
aku tak bermaksud mengacaukan hatimu.. aku hanya ingin menenangkan hatiku saja…
aku minta maaf, ngomong tidak pada tempatnya..”
aku tak sanggup menatapnya.. aku rasakan betapa sesaknya hati ini ketika aku ada di tempatnya, seperti itu dua tahun silam..
“Hen, maafin aku yah… coba kamu bayangin… bila cowok mu ada di posisi ku sekarang ini. Apa jawaban yang ingin kau dapatkan darinya?”
dia terdiam … sesekali menyeka air mata … baru kali ini aku lihat cewek periang ini menangis..
“yah.. aku tau… pastinya aku juga ingin cowok ku setia…
mungkin karena itulah aku menyukai mu… ”

aku tak dapat menyalahkannya.. kedekatan kami yang membuat dia begitu.. dia sering curhat.. dia sering mengadu.. sebagai teman.. teman saja… tidak lebih…
kali ini kubiarkan kau menangis …

 


Cinta Monyet dan Gorila

Hidup adalah sekarang dan masa depan. Masa lalu? Ah, itu hanya serbuk-serbuk luka termanis penyedap rasa di masa mendatang. Seperti sobekan kisah cinta yang berserakan. Juga puzzle-puzzle yang tak tersusun rapi dan membuat hidup akhirnya tak berbentuk.

Cinta bagai debu, terbang diterbangkan angin yang selalu sibuk berjalan-jalan dan tersesat di hati yang gersang. Lain lagi bila langit biru mulai menghitam, cinta adalah sunyi, tanpa bunyi. Yang selalu terdengar hanya nada-nada datar dan sumbang bergema lemah di langit-langit kamar hatiku.

Pada akhirnya, cinta masih seputar kisah tentangmu yang sekarang berjalan memunggungiku dengan wajah yang sama, ceria seperti biasa, tanpa dosa. Adakah aku di ingatanmu? Tidak ada? Sedikit saja?
Ah, aku masih mengingatmu dengan jelas. Kamu salah satu murid dengan catatan merah kebanggaanmu, mie ayam depan sekolah kesukaanmu, atau peringkatmu yang jauh di bawahku, juga suara sumbangmu yang tak henti menggetarkan gendang telingaku sejak beberapa tahun lalu, dan semua keburukanmu masih terpahat tepat di hatiku. Ah, memangnya apa lebihmu? Hanya kekuranganmu yang membuatku bertahun mengenangmu.

Cinta monyet dan gorila bukan hanya tumbuh subur di masa SMA, bahkan paragraf utama cerita ini berada di masa remaja sebelum aku beranjak dewasa, masa SMP. Konyol memang, tapi senangnya luar biasa dan sakitnya pun dari luar biasa.

Dia adalah seorang teman yang sudah sangat mahir dalam dunia percintaan, mengatakan tiga kata singkat yang memaksaku untuk tergagap tak kuasa menolak. “Aku suka kamu.” Untuk perrtama kalinya aku mendengar kalimat itu. Padahal yang kudapat darinya hanya sebatang coklat yang harganya tak lebih dari seribu rupiah. Betapa murahnya cinta itu. Bahkan kini ia hanyalah dongeng pengantar tidur yang memilukan. Tentu saja dia adalah segalanya. Bahagiaku juga sakitku. Paket komplet kisah cinta masa lalu.

Entah apa kelebihannya atau apa yang kusuka darinya. Ia sama sekali tidak tampan, pintar juga tidak, tidak juga kaya, romantis apa lagi. Hal-hal yang kusukai justru tidak ia sukai. Begitu pula sebaliknya. Aku sampai tak tahu persamaan apa yang kami miliki.

Saat itu saat kami sedang duduk tepat di teras asramaku, ia membawa gitar milik temannya. Tentu saja ia tak bisa memainkannya. Sudah kubilang ia tak ada lebihnya. Ia baru akan mulai belajar dengan gitar itu. Aku hanya tertawa saat ia dengan rasa percaya diri tingkat tingginya mengatakan akan menyanyikan lagu yang mengungkapkan perasaannya padaku. Hari itu adalah hari kedua dalam diary hatiku.
Yang menjadi sound track drama ini hanyalah lagu kecil yang begitu besar maknanya bagiku. Ini adalah lagu luar biasa yang ia nyanyikan untukku. Ia memetik gitar sembarang nada, kemudian menyanyikan lagu itu.

Satu-satu aku sayang kamu
Dua-dua juga sayang kamu
Tiga-tiga sayang sama kamu
Satu dua tiga kamu semuanya
Bayangkan bagaimana suaranya yang terjal dan berliku. Ekspresi wajahnya yang sok menghayati isi lagu. Juga petikan gitar dengan melodi aneh yang ia ciptakan sendiri. Musik terlangka yang pernah kudengar yang karenanya aku tertawa dengan begitu nikmatnya.

Mulai dari petikan nada pertama, kemudian ia bunyikan suara malaikatnya yang tiada duanya, hingga bait terakhir yang nadanya semakin melengking, tawaku tak juga bisa kutahan. Aku begitu bahagia saat itu. Bukan karena suaranya sumbang atau nadanya yang belepotan, tapi karena aku bahagia dan sangat bahagia. Padahal rumput liar pun tahu lagu itu sedikit pun tak ada romantis-romantisnya, tapi untuk yang satu ini aku tak sependapat. Saat itu yang kami lakukan hanya tertawa lagi dan lagi.Inikah cinta? Ah, betapa indah cinta itu Tuhan.
Saat tawa kami mulai megundang lembayung senja datang, ia bertanya padaku dengan lugunya, “Apa lagu itu romantis?”
Jawabku, “Lebih dari romantis.”
“Apa suaraku bagus?”
“Hmmmmmmm.” Tertawa lagi.
“Apa kamu bahagia?”
“Banget.”
Hey aku tak berbohong. Baru kali ini bisa kutemukan kelebihannya dan ternyata lebihnya itu banyak sekali. Bahkan hanya dengan nada aneh itu pun ia sudah mampu mengembangkan sejuta tawa di bibirku. Kelanjutannya adalah kami tertawa lagi untuk kesekian kalinya. Oh Tuhan mengapa ia memikat hatiku begitu dalamnya? Aku benar mencintainya.

Keesokan harinya masih di teras yang sama saat langit di atas asramaku mulai menguning pertanda siang akan berganti malam, ia datang lagi mengunjungiku. Selalu dengan rambut yang mulai meronta-ronta meraih alisnya yang berjajar rapi di atas matanya yang selalu berbinar. Tak pernah lupa memakai sepatu putih yang agak lusuh itu. Ia pasti baru selesai bermain basket di sekolah. Keringatnya terlihat jelas di punggung kaus pendeknya. Meski begitu, kali ini ia tetap tampak manis seperti biasa dengan kaus merah mudanya yang baru kulihat hari itu. Ia bahkan tak merasa malu memakainya. Dasar orang aneh.

Ia tak akan menatapku walau selintas bila ia belum sampai tepat di depanku. Meski demikian, aku tetap selalu menunggu senyuman itu. Ayo senyum untukku! Cepat senyum! Bisikku dalam hati. Tidak terdengar olehnya. Tidak ada senyuman.

Ia menghampiriku lalu terduduk menunduk. Tak ada senyuman pembuka. Aku pun tak menyapa, hanya menatapnya sambil memainkan gantungan di tas gendongnya. Satu menit, dua menit, tiga menit. Akhirnya ia mengangkat kepalanya. Masih dengan napas yang tampaknya begitu lelah. Ia tersenyum. Hmmm manis sekali. Aku membalas.

Teman sekamarku pasti sedang menguping di balik pintu kamar kami. Ia tidak sendiri, selalu dengan tetangga kami yang setahun lebih tua dariku. Pasti sambil membongkar isi diaryku.
“Abis basket?” Aku membuka percakapan.
“Hmmmm.” Ia mengangguk membenarkan dan masih dengan senyuman itu.
Dari dalam kamar mulai terdengar bisik-bisik yang terlalu keras sampai perbincangan mereka pun bisa kudengar dengan jelas. Aku cukup berpura-pura tidak menyadarinya. Mungkin juga dia yang kusebut sebagai pacarku ini mendengar celotehan-celotehan di belakang punggungnya.

“Minggu ini mau pulang?”
“Nggak tahu nih! Kenapa gitu?” Aku balas bertanya.
“Biar aku antar yah!” Katanya mulai bersandar di tiang besar di antara kami.
“Hah? Ehh….”
“Kenapa?”
“Aku kan nggak dibolehin pacaran. Jadi kalo ketahuan aku pasti kena marah.”
“Oh ya ya. Nggak apa-apa deh.” Tampaknya ia sedikit kecewa.

Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Aku menebak, mungkin coklat seribuan lagi atau mie ayam depan sekolah lagi. Jangan-jangan ia akan menyogokku dengan kado kecil atau apa lah itu. Ternyata semua tebakan itu salah. Yang dikeluarkannya adalah boneka Teddy berwarna cokelat berukuran sedang. Mungkin untukku. Aku yakin saat itu wajahku sangat cerah karena senangnya. Benar saja, ia menyerahkannya padaku. Lalu ia bertanya.

“Kamu bisa bungkusin kado nggak?”
“Eh?” Aku sedikit kaget dengan pertanyaannya.
“Bisa nggak?”
“Aku nggak terlalu pinter bungkusin kado. Buat siapa?” Aku membiarkan boneka itu tergeletak di lantai.
“Teman.” Jawabnya terseynum meyakinkan.
“Oh.”

Menyebalkan sekali. Baru hari ketiga, lembaran diaryku sudah dicoreti dengan kecemburuan dan ketakutan tentang Teddy itu. Kado untuk temannya? Teman yang mana? Pasti perempuan. Pasti cantik. Atau mungkin manatan pacarnya? Aaaaah aku benci boneka Teddy.

Teman-temanku mulai melemparkan bermilyar asumsi yang memancing ketakutanku.

“Jangan-jangan ia selingkuh.” Kata mereka.
“Atau mau balikan sama mantannya.”
Bagaimana caranya aku mencari tahu? Salat? Ah, bahkan Allah tak memberi izin aku untuk pacaran bukan? Mungkin lebih baik cari aman, diam.
Hari ke empat semua masih baik-baik saja. Kami yang belajar di bawah atap kelas yang sama masih berbincang santai bersama. Kali ini ia memamerkan permainan gitarnya yang mulai bisa membunyikan beberapa kunci, E, G, dan C. Kemajuan yang bagus. Sepertinya ia berusaha dengan keras. Jari-jarinya terlihat memerah dan agak bengkak.

Setelah permainan gitar sederhana itu ia mengajakku berfoto bersama dengan handphonenya. Aku tak suka berfoto dengan laki-laki sebenarnya. Lagi pula di sekolah aku merasa sangat culun. Langitnya juga tidak lagi berwarna biru, justru abu-abu. Tampaknya kantung-kantung air di atas sana sudah siap ditumpahkan ke bumi. Foto yang kami buat pun ikut-ikutan mendung.

Hari berikutnya tak ada yang istimewa antara kami. Hanya sapaan basa-basi yang terjadi sekali, pagi hari. Sorenya ia menemuiku seperti biasa. Tak ada bosan-bosannya. Sudah ia cetak foto kami kemarin itu. Sayang, fotonya tak ada bagus-bagusnya. Tepat seperti dugaan. Meski begitu, tetap saja sayang untuk dibuang. Ia mengeluarkan pulpennya lalu menuliskan inisial nama kami di belakangnya, N&A.

Pagi hari ke tujuh aku bangun kesiangan. Pergi ke sekolah pun lebih siang dari biasanya. Dari kejauhan, tepat di kursi sepan kelas aku melihatnya. Berdua. Ia bersama salah satu temanku juga. Ia sempat melihatku tapi tak ada senyuman juga sapaan. Diam. Ah, mereka kan hanya teman, fikirku.

Namun kenyataannya, tak ada satu pun tulisan tanpa coretan. Seperti kisah tanpa akhir. Atau tiada cinta tanpa luka. Sangat tidak mungkin. Yang menyakitkan adalah ketika ia tersenyum dan membuat senyuman di bibir orang lain. Juga saat ia menyenandungkan nada sumbangnya di telinga orang lain. Atau saat ia memamerkan kemampuan gitarnya pada orang lain. Rasanya sakit sekali.

Ternyata bahagia itu hanya ada dalam tujuh hari yang singkat. Ah, cinta apa itu? Ia bahkan tak keberatan membagi kisah-kisahnya pada gorilanya tepat di depan monyetnya. Betapa jahatnya. Betapa sakit cinta itu. Betapa tak bernilai kisah lalu itu. Ia hanya berjalan pergi membelakangiku dengan senyumnya yang terkembang untuk cinta-cinta lain yang siap tertipu sepertiku.

Betapa pun sakitnya, lagu Satu-satu itu masih tetap mampu melukiskan senyum di bibirku hingga air mata melintasi pipiku. Karena meski aku bertemu cinta lainnya lagi dan lagi, suara tanpa nada itu masih menjadi peran utama setiap kisah di hidupku, maka inilah lagu untukmu.

Kini aku berharap waktu
Membawamu dan kekasihmu
Merasa jemu dengan waktu
Dan berpisah
Lalu kau datang padaku
Saat ku masih untukmu
Kapan kau akan menipu dan lukaiku lagi? Aku masih menunggu.

 


Perpisahan Termanis

“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Rona memulai pembicaraan.
“Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” tanya kekasihnya.
Rona hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah matahari yang mulai terbenam. Suasana sore hari itu membuat hatinya yang kacau sedikit tenang. Rona sudah diterima di universitas yang telah lama dia impikan. Namun masalah yang harus dihadapinya adalah dia akan terpisahkan oleh jarak dan waktu dengan kekasihnya, Fajar. Yogyakarta bukanlah kota yang mampu ditempuh hanya dengan dua atau tiga jam perjalanan dari Probolinggo.
“Jadi keputusanmu bagaimana? Kau akan mengakhiri hubungan ini begitu saja?” lanjutnya.
“Jika kau mau bertahan dengan jarak dan waktu yang memisahan kita, aku pun tidak masalah,” jawab Rona.
“Kau mau kita menjalani LDR?”
“Iya. Tapi apa kau bisa?” tanya Rona balik.
“Aku akan berusaha dan tetap menjaga hatiku sampai kau kembali,” ucap Fajar dengan tersenyum melihat kekasihnya itu.
“Kau janji?”
“Tentu saja,” ujar Fajar menggengam erat jemari kekasihnya itu. Dia seperti tidak ingin terpisahkan dengan Rona yang sangat dia cintai.

3 bulan kemudian…
“Hai, Rona! Lagi apa?” tanya seseorang dari belakang Rona.
“Cari referensi tentang tugasku,” jawabnya singkat.
“Bisa aku bantu? Sepertinya kau kesulitan mencarinya di buku sebanyak ini,” tawar Toni.
“Tak usah, kau dapat membantuku dengan pergi mengganggu aku hari ini,” ucapnya ketus.
“Marah ya? Oke dah maaf. Aku pergi dulu. Bye,” ujar Toni seraya pergi meninggalkan Rona dengan tumpukan buku yang cukup banyak.
Rona lega akhirnya Toni pergi meninggalkannya sendiri. Dia mengganggap Toni sebagai pengganggu karena pemuda tersebut selalu mengikutinya.
“Kau terlalu ketus mengusir dia, Na,” tiba-tiba Sarah menegur Rona yang masih sibuk dengan bukunya. Sarah merupakan sahabatnya dari SMA dan juga satu kampus dengannya.
Rona hanya menghela napas mendengar ucapan temannya.
“Baiklah, aku tau kau tidak suka dengannya tapi aku rasa dia suka sama kamu,” goda Sarah.
“Sudahlah, berhenti ngomongin dia,” Rona segera mencari handphonenya. Dia tiba-tiba teringat dengan kekasihnya dan berniat untuk mengiriminya pesan.
“Kau sedang mengirim sms ke Fajar?”
Rona mengangguk dan terus sibuk mengetik sms yang akan dia kirim ke Fajar.
“Kau tahu tidak, waktu aku pulang ke Probolinggo kemarin aku melihat Fajar sedang jalan bersama mantannya,” tutur Sarah.
“Mantan? Maksudmu Tasya?” ujar Rona kaget.
“Iya, apa Fajar tidak bercerita padamu?”
Rona menggeleng. Dia merasa khawatir jika Fajar sudah melupakan janji mereka untuk saling menjaga perasaan. Namun dia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Fajar hanya ingin bertemu dengan mantannya tanpa ada maksud lebih di antara mereka.

Sar, kau ada dimana?
Sender : Fajar
Sent : 28-Dec-2011 08:37:22

Di kost. Knp?
Sender : Sarah
Sent : 28-Dec-2011 08:40:01

Aku ke sana ya? Ada yang ingin aku tanyakan.
Sender : Fajar
Sent : 28-Dec-2011 08:42:46

Loh? Kau ada di Yogya? Sejak kapan?
Sender : Sarah
Sent : 28-Dec-2011 08:45:24

Nanti saja ceritanya. Tapi kau jangan cerita ke Rona kalau aku di Yogya.
Sender : Fajar
Sent : 28-Dec-2011 08:47:33

Ok.
Sender : Sarah
Sent : 28-Dec-2011 08:50:23

Fajar segera meluncur ke tempat kost Sarah. Setibanya di sana, dia disambut hangat oleh sahabat kekasihnya itu. Fajar kemudian bercerita bahwa dia ingin memberikan kejutan bahwa dia akan mengunjungi Rona. Sekaligus ingin melihat aktivitas yang dilakukan Rona di kota tersebut. Tak lama kemudian Toni datang ke tempat kost Sarah dan memberikan sesuatu padanya.
“Sar, aku minta tolong ya. Berikan surat ini pada Rona!” pintanya.
“Surat apa ini?” tanya Sarah seraya mengambil surat beramplop biru dari tangan Toni.
“Aku tidak ingin Rona selalu jutek padaku setiap aku mendekatinya. Maka dari itu aku ingin menceritakan semua perasaanku ke dia,” tutur Toni.
Fajar yang saat itu sedang bersama Sarah merasa kaget mendengar ucapan pemuda tersebut. Dia tidak menyangka bahwa Rona telah dekat dengan pemuda dihadapannya. Hatinya memanas seketika dan bergemuruh hingga mendidihkan emosinya. Tapi dia menahan diri dan berusaha bersikap biasa dan cuek mendengar cerita dari Toni meskipun hatinya terbakar cemburu.
“Dia temanmu?” tanya Toni yang melihat Fajar di samping Sarah.
“Iya, dia adalah Fajar, kekasih…”
“Aku teman Sarah, perkenalkan,” ucap Fajar memotong perkataan Sarah seraya berjabat tangan dengan Toni. Fajar tidak ingin Toni mengetahui bahwa dia adalah kekasih Rona yang kelak pasti akan menimbulkan masalah yang tidak dia inginkan.
Usai berkenalan dan berbincang, Toni berpamitan dan mengingatkan Sarah untuk tidak lupa memberikan suratnya pada Rona.
“Kau tidak mengatakan bahwa kau kekasihnya Rona?”
“Tidak usah. Mana surat darinya? Biar aku sendiri yang menyerahkan pada Rona,” pinta Fajar.
Sarah pun memberikan surat tersebut pada Fajar. Tak lama kemudian, Fajar pamit untuk segera menemui Rona dengan hati yang bergejolak tak menentu.

Ponsel Rona berdering pertanda ada telepon masuk. Dia tersenyum senang saat dilihatnya di ponselnya tertera nama kekasihnya. Dia segera mengangkat telepon dari orang yang sangat dia rindukan.
“Hallo, Fajar. Apa kabar? Sudah lama kau tidak meneleponku”
“Maaf, Na. Aku sibuk. Kau sedang apa?” tanya Fajar.
“Lagi santai saja di kamar. Kau sendiri?” tanya Rona balik.
“Aku sedang di perjalanan menuju tempat kostmu. Ada yang ingin aku bicarakan,” jawabnya.
“Kau ada di Yogya? Wah. Ini kejutan buatku ya? Baiklah aku akan bersiap,” ucap Rona gembira.
“Iya, sudah dulu ya,” sahut Fajar seraya menutup ponselnya.
Di perjalanan, Fajar masih teringat saat pertama kali bertemu dengan Rona, gadis itu begitu menarik perhatiannya sehingga membuatnya ingin memilikinya. Namun, ketika mereka sudah disatukan oleh cinta, mereka harus terpisah oleh jarak dan waktu, kesetiaan mereka telah diuji oleh situasi. Kini keputusan ada di tangannya. Dia ingin mempertahankan Rona namun dia merasa hubuungannya bergitu rentan untuk berakhir dikarenakan pihak-pihak yang mencoba mengusik kesetiaan mereka.
Beberapa menit kemudian, Fajar sudah sampai di tempat kost Rona. Di sana terlihat kekasihnya sedang menunggu di depan kost.
“Kau akan mengajakku kemana?” tanya Rona penuh semangat.
“Bagaimana kalau ke Parang Tritis, sunset di sana pasti bagus,” usulnya saat masuk ke dalam mobil.
“Baiklah,” Fajar segera mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang diinginkan kekasihnya.

Selang beberapa menit, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Rona segera turun dan berlari menikmati udara di sana. Dia sudah lama ingin pergi ke tempat tersebut namun masih belum ada yang mengajaknya.
Di kejauhan, ombak bergulung-gulung begitu besar. Makin lama, gelombang laut itu mengecil saat mencapai daratan. Anak-anak begitu senang bermain di sekitar ombak. Para pengunjung lain lebih senang duduk di pasir sembari memandang keindahan Parang Tritis.
“Kau menikmatinya?” Fajar membuka pembicaraan.
“Iya. Tadi kamu bilang mengajakku karena ingin mengatakan sesuatu. Tentang apa?”
Fajar kemudian merogoh kantong bajunya dan menyerahkan surat dari Toni pada kekasihnya.
“Bukalah!” ucapnya.
Rona kemudian membuka surat tersebut dan membaca isinya. Di dalamnya berisi curahan hati Toni mengenai perasaannya pada dirinya. Rona tidak menyangka bahwa maksud Toni selalu mengikutinya karena pemuda itu memiliki perasaan padanya.
“Aku tidak tahu sejak kapan kau dekat dengan laki-laki itu. Bagaimana jawabanmu terhadap surat itu” tanya Fajar.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Toni. Aku masih menjaga kesetiaan padamu,” ucap Rona. “Kau sendiri bagaimana dengan Tasya?” Rona mencoba mengalihkan pembicaraan.
Fajar kaget mendengar ucapan Rona, dia tidak percaya bahwa Rona mengetahui kedekatannya kembali dengan mantannya tersebut.
“Kau tidak perlu kaget dengan ucapanku,” tutur Rona seakan mengetahui pikiran Fajar.
“Aku memang saat ini dekat dengannya. Tapi aku hanya menganggapnya teman. Aku simpati padanya karena dia sudah berubah menjadi baik, tak seperti sifatnya dulu. Kau pasti mengetahui hal ini dari Sarah, bukan?”
Rona mengangguk. Dia hanya menatap keindahan laut yang terhampar di depan matanya. Dia seakan tidak ingin mendengar ucapan Fajar yang perlahan menyayat hatinya.
“Jadi bagaimana keputusanmu?” tanya Fajar
Rona terdiam sejenak. Dia kemudian menghela napas sebentar dan mulai berkata, “Maaf, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi,” tutur Rona pelan.
“Jadi kau memilih Toni?”
“Tidak, aku akan lebih berkonsentrasi pada kuliahku. Mungkin ujian kesetiaan kita cukup berakhir di sini. Aku tidak ingin menyakitimu dan aku pun tidak ingin bersedih saat kau bersama mantanmu di sana,” jawabnya lirih.
“Aku juga belum tentu akan kembali pada Tasya,” ucap Fajar.
Pembicaraan mereka pun terhenti. Pikiran mereka berkecamuk sendiri di dalam benak masing-masing. Suasana sunset meredakan kebimbangan diantara mereka. Dengan perasaan tak menentu, Fajar melangkahkan kaki meninggalkan pantai yang menjadi saksi atas berpisahnya cintanya dengan wanita yang dicintai selama ini. Demikian juga Rona.
Saat kembali ke dalam mobil, Rona hanya menyesali keputusannya. Dia mungkin tidak dapat bertemu lagi dengan sosok pemuda seperti Fajar. Namun, inilah keputusan yang telah dia ambil demi kebaikan di antara mereka.
Lagu “Perpisahan Termanis” mengalun indah di dalam mobil mengantarkan mereka ke masa depan masing-masing.
Jika memang kau tak tercipta untuk ku miliki
Cobalah mengerti yang terjadi
Bila mungkin memang tak bisa
Jangan pernah coba memaksa
tuk tetap bertahan di tengah kepedihan
Jadikan ini perpisahan yang termanis
Yang indah dalam hidupmu sepanjang waktu

 


Penyesalan

kamu tidak akan tau kalau kamu membutuhkannya sampai dia meninggalkanmu.

*******************

Aku ingin bertemu denganmu sekali saja. Kamu tau, mungkin mulutku mengingkari namun sebenarnya aku benar2 rindu padamu. Dan percakapan kita via telepon waktu itu semakin menguatkan rasaku.

Ah. .. aku benar2 jadi pecundang kali ini, di depanmu aku tak pernah mengakui rasaku. Mungkin egoku terlalu tinggi atau engkau yang tak pernah peka?? Seharusnya engkau tau dari seringnya kita bertukar cerita yang tidak penting, sekedar berbicara tentang kebiaasaan kita yang tak pernah berubah. Atau mungkin kau memang memancing agar aku sedikit menurunkan gengsiku? Kamu bahkan tau dari dulu aku tak pernah mau diatur.

“masih bolehkah kupanggil engkau bunda….?”

hmm… panggilan itu rasanya malah mengiris hatiku. Entahlah aku merasa jadi orang paling berdosa karena dulu pernah meninggalkanmu. Waktu itu aku benar2 tidak siap menjadi pendampingmu, padahal kita bukan kanak2 namun mengapa aku takut jadi dewasa.

“Aku hanya ingin minta maaf”

“Maaf untuk apa bunda?”

Maaf karena pernah membuat luka di hatimu.. namun kalimat ini tak pernah keluar dari mulutku. Keberanianku belum terkumpul, mungkin nanti saja saat kita bertemu lagi pikirku.

“apa kau mau mengakui sesuatu bun..?

“buat apa mengaku ,karena memang tak ada hal yang perlu diakui”

Tidak.. batinku menjerit mengutuk keangkuhanku. Perlahan mataku menganak sungai, aku hanya takut akan melukaimu lagi.. takut kalau ini hanya pelarian sementaraku. Namun semakin lama aku sadar engkaulah pencarianku.

Hari ini kubulatkan langkah untuk segera menemuimu. Kupakai baju pemberianmu dulu. Nanti engkau akan menemuiku di tempat pertama kita bertemu. Saat itu akan kukatakan semuanya tentang kerinduanku, pencarianku, dan semua itu ternyata kamu.

***************************************

Benar kata orang menunggu adalah hal yang sangat menyebalkan. Berkali kali kutengok jam namun engkau tak jua datang, ternyata kamu tetap sama tak pernah tepat waktu padahal kamu tau aku benci itu. Dulu sempat aku marah besar padamu karena kamu datang 2 jam dari waktu yang dijanjikan, dan kamu dengan entengnya menjawab kalau harus mengantar temanmu. Aku merasa diabaikan, mungkin aku terlalu egois, tapi bagiku janji harus ditepati.

Dan saat lelahku menghampiri, kulihat engkau memasuki area parkir. Segera saja aku mendekatimu.

“kamu masih cantik seperti dulu bun…”

“ dan kamu tetap sama seperti dulu, tukang ngerayu..”

“ apa kabarmu bun, apa pencarianmu sudah berujung”

Deg.. itu kamu jeritku dalam hati, namun hanya kutanggapi dengan senyuman. Lalu mengajakmu menyisir sepanjang taman kenangan kita.

“andai dia aku bun, tentulah sangat bahagia”

“tapi sayangnya bukan” godaku dengan senyum nakal.

“ kenapa bun..”

“karena jarak kita berjauhan” kujawab sekenanya saja.

“kau tau bun, selepas kepergianmu aku terpuruk. Entahlah kata2mu dulu membiusku hingga aku iyakan saja pintamu.. bahkan masih kusimpan pesan singkat darimu sebelum kau benar2 hilang ditelan bumi beberapa tahun ini”

Ijinkan aku mengakhiri hubungan yang semu dan penuh dosa ini, sementara biarlah kuisi hatiku dengan cinta yang lebih kekal yaitu cinta Illahi…dan bila Alloh berkehendak maka kau akan datang padaku dan menjadikan aku pengantinmu dalam ikatan suci. Bukankah ini akan lebih indah..?

“ seorang wanita dinikahi karena empat hal, dan salah satunya karena agamanya. Aku memilihmu karena itu bun… kau tau pesanmu mengisyaratkan engkaulah bidadari syurga itu…”

Aku menerawang jauh ke masa lalu, dalam kebimbangan kukirim pesan singkat itu padamu. Setelah itu kubuang semua nomor hpku agar tak ada akses lagi bagimu. Aku tertunduk membisu. Petir yang datang serasa menyentak kalbuku. Perlahan langit menangis. Ah… terlalu tinggi sebutan itu bagiku, aku hanya perempuan biasa yang bimbang hatinya.

Dari jauh kulihat seorang perempuan berjalan kearah kita.

“itu tunanganku bun… aku tak pernah mencintainya tapi dia begitu mencintaiku, aku katakan padanya aku menemui seorang yang mengajariku arti kehidupan. belum terlambat bun…. Kami belum menikah”

Tiba2 hujan menjadi deras, wanita itu berlari ke peneduh ditengah taman. Kamu berusaha menarikku ke sana juga namun aku menolak. Kau tau? Sebenarnya didalam hujan bisa kusembunyikan air mata. Betapa aku mencintai hujan saat ini.

“ayo bun… katakan iya dan akan katakan padanya kalau cahayaku akan bersinar denganmu.. pliiiis..”

Senyumku mengembang, namun mataku tetap basah

“ semoga kamu bahagia ya…, aku tau rasanya menderita karena cinta dan aku tak mau wanita itu meratapi nasibnya, katakan padanya gurumu ini tak bisa menemuinya karena banyak murid yang harus diajar” . candaku mungkin hambar kamu rasa, begitupun aku sakit merasakannya.

Kubalikkan badan menjauhimu dan hidupmu. Biarlah hujan ini menghanyutkan kerinduanku padamu.

Hujan telah reda, kulihat pelangi menggeliat manja. Namun hatiku tetap gerimis…..

**************************************************

“Walau raga kita terpisah jauh namun hati kita slalu dekat, bila rindu pejamkan matamu dan katakan aisiteru…” (*)

ket (*) dari lirik lagu zivilia, aishiteru

 


Menyayangi Bukan Dari Penyesalan

“Dek, tolong yang sebelah kiri ditarik lagi. Itu masih miring!” suara perempuan bernada tegas dan agak aneh karena pilek terdengar di depan kampus pagi ini. Aku yang baru saja memarkir motor segera menghampiri ke tempat perempuan itu.
“Aduh, Ndra! Kelewatan yah kamu! Ini jam berapa baru dateng? Anak buahmu aja udah pada dateng masak koornya telat??”

Ya, perempuan berparas cantik itu tengah memamerkan mimik kesal padaku, si koor perlengkapan, yang datang terlambat di pagi ini. Jelas saja dia uring- uringan. Hari ini kampus kami akan mengadakan sebuah even yang cukup besar dan bergengsi seantero Indonesia.
Ketuanya ya si perempuan cantik yang sedang ngambek itu. Namanya Ira, dia bukan anak BEM tapi menjadi ketua even besar ini. Aku hanya menjadi koor perlengkapan. Setelah kami selesai memasang spanduk sambutan selamat datang di depan kampus, kami bergegas masuk ke dalam aula tempat acara akan dilaksanakan.

Ira nampak mondar- mandir ke sana kemari, dia sibuk membantu anak lain di tiap tempat. Seperti misalnya menata absen, menyiapkan konsumsi, mengecek rundown acara dan lainnya. Ira anaknya cantik, tetapi dia tidak terlalu tinggi, cerdas, tegas dan tidak cengeng. Yah, setidaknya begitulah kesan yang kudapat selama dua tahun kenal dengannya. Dia tidak suka duduk dalam waktu lama, dia tidak suka kalau didebat, keras kepala, ceria, suka humor, dan memiliki kepedulian tinggi.

Dulu aku satu kelompok ospek dengannya, tapi dulu dia tidak begini. Dia cenderung lebih diam. Tetapi, sejak semester dua, sikapnya banyak berubah. Dulu yang kerjanya kupu- kupu (kuliah- pulang), kini dia aktif berorganisasi. Beberapa bulan lalu, dia sudah memenangkan lomba debat tingkat fakultas, universitas dan kota. Even yang ditanganinya relatif sukses dan membawa nama baik.

Tapi, sampai saat ini, aku masih belum tahu seluk beluk kehidupan Ira. Yang aku tahu dia seorang anak tunggal, ayahnya seorang jenderal tentara, rumahnya kira- kira berjaraktempuh 45 menit dari sini. Pernah punya pacar, tapi tidak ada seorang mahasiswa di fakultas ini yang pernah melihat Ira membawanya ke kampus.

Ira memang mudah bergaul, dia supel dan orangnya ramah. Tetapi, tidak banyak anak perempuan yang bertahan menjadi sahabatnya. Tiga perempuan yang dulu selalu bersamanya, kini pergi meninggalkannya. Sepertinya, mereka tidak cocok dengan sifat Ira yang cenderung naif dan ceplas- ceplos.

Padahal, selama aku berteman dengan Ira, aku sama sekali tidak merasa kalau Ira menyebalkan. Justru, dia banyak membantuku. Ketika kami sama- sama pulang rapat malam, dan besok ada tugas besar. Aku masih belum selesai dan dia sudah selesai, dia pasti menawariku bantuan untuk menyelesaikan tugas. Aku yang hanya anak rantau di kota ini terus terang saja merasa terbantu.

“Indra. Aku minta tolong, di depan sudah ada beberapa peserta, tolong sama yang lain stand by di lobi ya. Arahkan mereka supaya jangan nyasar. Thanks.” Sesusai meminta tolong dia berlalu dengan senyuman. Fuuh… Sempat juga dia mengulas senyum manis seperti itu.

Padahal aku tahu dia pasti lelah sekali karena sibuk mondar- mandir ke sana- kemari.
Pagi ini, sebuah acara kuliah umum yang bertema tentang enterpreneurship, akan dibawakan oleh Profesor Bambang. Beliau adalah guru besar yang sudah diakui kepiawaiannya dalam bidang manajemen dan bisnis. Setiap kampus mengidam- idamkan mengundang beliau untuk memberikan kuliah tamu. Selain itu, beliau juga memiliki suatu perusahaan konsultan yang sudah beranak pinak di berbagai provinsi di Indonesia. Peserta acara kali ini tidak hanya berasal dari kampusku saja, tapi dari berbagai kampus di Jawa Timur, swasta dan negeri. Pesertanya mencapai 657 orang!

“Mbak Ira!!” Seorang adik kelas memanggil Ira yang saat itu tengah mengecek daftar peserta. “Ada apa, dek?” Ira dengan sigap menjawab.
“Aduh, mbak. Prof Bambang bakal dateng telat! Gimana ini??”
“Telat berapa lama?”
“emh, beliau bilang sekitar habis Duhur baru datang, mbak! Gimana ini???”
“Sungguh? Mana teleponnya? Biar aku yang telepon beliau!” Ira langsung menyaut HP anak itu dan menelpon.
Aku jadi ikutan was- was. Ira, kalau sudah emosi bisa sangat menyeramkan. Mukanya sudah pucat ketika sedang menelpon Prof Bambang. Setelah telepon diputus, wajahnya kembali sumringah.
“Nggak apa, dek. Satu jam lagi, anak buah Prof Bambang ke sini buat nggantiin beliau sementara. Prof bambang dateng 2 jam setelahnya. Masih bisa kok. Nggak sampai Duhur.” Ira justru menenangkan adek kelas yang tadi sudah gemetar ketakutan.
“Kamu, silakan hubungi nomer ini ya. Aku mau bantu panitia di bagian perlengkapan dulu.”
“Iya mbak! Makasih banyaaak!” Anak itu segera berlalu. Kemudian Ira menghampiriku.
“Gimana pak koor? All is well?” Tanyanya sambil bersandar di dinding dekatku. Aku hanya membalas anggukan.
“Kamu super banget, ra.”
“Apanya, ndra?”
“Nggak kayak cewek lain! Kamu hebat banget nanganin semua ini. Padahal dulu kamu nggak kayak gini lo.”
“Oh ya? Jangan bandingin aku sama cewek lain dong. aku ya aku. Aku punya waktu yang berbeda dari mereka semua, termasuk dengan kamu, ndra. Aku nggak mau waktuku yang singkat Cuma aku habisin di kasur.” Ira berlalu setelah berkata seperti itu.
***
Akhirnya, si pembicara yang akan menggantikan Prof Bambang sementara waktu sudah tiba. Ira diminta untuk menemuinya sebentar saja. Aku yang saat itu ada di dekat ruang tunggu pengisi acara menyaksikan suatu keganjilan.
Ira yang baru saja tiba ke ruangan, lalu menatap pria necis yang duduk di dalam ruangan itu, mendadak putar balik. Dia langsung berlari keluar dan merenung di dekatku.
“Ra, ada apa?”
“Nggak apa. Tolong deh, kamu urus itu pembicaranya.” Ira berlari entah ke mana. “Ra! Ira!!” meski kupanggil dia tidak kembali. Mungkin dia mau ke toilet untuk membuang dahak atau ingus di hidungnya. Dia kan hari ini sedang pilek.
“Eh, mas! Boleh tanya?” Ternyata si pembicara itu keluar dari ruangan. “Iya, boleh.” Jawabku. “Itu tadi Ira ya?” Tanyanya.
“Oh, iya. Dia Ira mas, ketua acara ini. Apa perlu saya panggilkan?”
“Emh.. Nanti sajalah. Sepertinya dia tidak mau bertemu dengan saya saat ini.” Jawab pria necis itu. Aku semakin tidak mengerti. Siapa pria ini dan apa hubungannya dengan Ira?
Setelah acara berjalan, dan Ira tidak juga muncul, aku mulai mencarinya ke seantero kampus. Dan akhirnya langkahku membuahkan hasil ketika melintas di depan gedung baca. Ira sedang duduk sendirian di lorong depan Gedung Baca. Dia terpekur dan entah apa yang sedang direnungkannya.
“Ngapain sih? Nanti kesambet loh di sini sendirian!” Ucapku. Dia mengangkat wajahnya sambil mengernyitkan dahi.
“Oh, kamu toh ndra. Hehe.. Iya, lagi istirahat nih.”
“Istirahat?” tanyaku sambil mendekatinya. “Aku boleh duduk?” Tanyaku. Dia mengangguk sambil agak bergeser.
“Nilaimu gimana, ra? Bagus- bagus nggak semester ini?”
“Iya, Alhamdulillah, ndra. Kamu?”
“Sujud sukur deh aku, ra. Aku beruntung banget bisa berteman sama kamu! Ujian dibantuin, tugas ditolongin. Kurang baik apa coba kamu! Hahahaha!” kataku.
“Iya. Syukur deh, ndra kalo bisa bikin kamu seneng. Aku ikutan seneng kok. Lagian, selama ini aku juga berusaha membuat orang lain seneng.”
“Oya? Mulia banget ati kamu, ra?” Ira hanya membalas senyuman. “Di waktu yang singkat gini, apa sih yang bisa aku lakuin selain menyenangkan orang yang sudah banyak membantu aku? Aku nggak bisa ngasih apa- apa selain itu, ndra.”
“Ira, omonganmu kelewat serem tauk! Udah sarapan belum?” aku bertanya begitu karena kulihat bibir Ira memucat.
“Emh.. Akhir- akhir ini aku nggak nafsu makan, ndra. Kalo kamu mau sarapan dulu nggak apa kok. Aku balik dulu yah.”
Ira berdiri dengan agak kaku dari bangku ini. Kemudian dia seperti menarik nafas panjang, badannya agak membungkuk ketika dia berjalan. Belum sampai langkah kelima, dia sudah ambruk.
“Masya Allah!!! Ira!” Aku berlari dan menyaut badannya. Nafasnya menderu dengan cepat dan pendek. Sesekali terdengar suara mendecit. Aku langsung menyusupkan tangan ke belakang punggungnya, dan mengangkat badannya.
Aku berlari secepatnya ke gedung utama agar Ira bisa mendapat pertolongan.
“Hey! Siapa aja! Tolong cari dokter! Ira pingsan!!!” Teriakku. Semua panitia yang ada panik. Untunglah, ada dokter yang ditugaskan dalam acara kali ini.
Ira kubaringkan perlahan di atas matras. Wajahnya sudah memucat, matanya terpejam, sepertinya menahan sakit. Nafasnya masih saja menderu seperti itu. Di lengannya, ada bekas seperti lebam. Padahal tadi ketika kuangkat tidak ada!! Apakah tanganku sudah melukainya???
Dokter dengan sigap memeriksa keadaan Ira. Menempelkan stetoskop, membuka kelopak mata Ira, mengecek bercak- bercak merah yang mulai timbul di kulitnya. Dan akhirnya, dokter itu menoleh ke arahku.
“Panggilkan Ambulance. Tidak mungkin ditangani di sini.”

***

“Dia terkena leukimia akut, tipe LLA. Sepertinya sudah setahun dia terkena penyakit ini. Apakah Bapak dan Ibu tidak menyadarinya?”
Kedua orang tua Ira hanya terdiam sambil menahan air mata di pelupuk mata. Aku juga hanya bisa terdiam di lorong ICU. Setelah itu, kedua orang tua Ira pergi bersama si dokter. Aku hanya tinggal sendirian. Kuberanikan diriku masuk ke ICU untuk menengok Ira sejenak, setelah itu aku pulang. Di balik jendela itu, aku bisa melihat Ira terbaring.

Rasanya aku tidak bisa percaya, dia terkena leukimia akut, dan selama ini dia diam saja!?? Bodoh dan naif sekali dia!

Ira nampak membuka matanya, berkedip beberapa kali dengan lemahnya. Lalu mulai melirik aku yang ada di balik kaca ini. Tangannya bergerak pelan, seolah memintaku masuk ke dalam ICU. Kuturuti sajalah, aku tidak tega melihatnya tergeletak di sana sendirian.

“Ndra..”

“Sst! Berisik!” kataku. Dia membalas senyum. “Tolong, liat di saku jaket aku. Ambil amplop di situ, kamu baca dan kamu kasih ke pembicara yang tadi gantiin Prof Bambang. Sekarang juga..”

“Hah? Serius, ra?” Tanyaku. Dan dia hanya membalas anggukan yang sangat lemah. “Pergi sekarang. Tolong..” katanya semakin lirih.

Aku kembali berdiri di sampingnya. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian di sini. Aku sadar, ternyata selama dua tahun ini aku benar- benar jatuh hati padanya. Dia yang selalu bersemangat, terlalu naif, tidak manja, terlihat banyak teman tapi ternyata kesepian…

“Indra… Tolong. Nggak pake nangis..” tangannya meraih tanganku. “Aku nggak pantes kamu tangisin. Aku nggak punya waktu banyak buat liat orang yang aku sayang sedih. Aku mau sebelum waktuku habis liat semuanya baik- baik saja…”

Aku tahu, dia bisa melihat mataku yang memerah karena ditusuk air mata. Aku menarik nafas, sambil ganti menggenggam tangannya dengan sangat erat.
“Aku sayang banget sama kamu, ra. Sembuh, ya. Demi aku!” dengan lembut kukecup keningnya. Ira hanya memejamkan mata, sambil mengulas senyum yang sangat manis.

***

Dengan agak tidak sabar kubuka surat dalam amplop milik Ira itu::

“Hai, siapa saja yang buka surat ini. Tolong berikan surat ini kepada Alex Soetanto. Dia anak buah Profesor DR Dr Bambang Wijaya (guru besar itu lho).
Aku bawa surat ini mulai tanggal 4 Desember 2010. Karena, sejak 2 bulan lalu, aku divonis terkena leukimia tipe LLA. Aku juga nggak tahu tentang penyakit itu. Sampai beberapa waktu lalu aku merasakan gejala yang lumayan aneh. Dan ketika ke dokter, aku dinyatakan terkena leukimia. Kenapa aku nggak ngomong ke orang rumahku?
Ketika aku sakit, aku berkata mungkin saja aku terkena gejala leukimia. Mereka langsung menolak dan mengatakan kalau aku mendramatisir. Baiklah, setidaknya aku bisa menangkap maksud mereka kalau aku TIDAK boleh sakit seperti ini. Baiklah, aku kabulkan permintaan mereka.
Meski sudah positif terkena penyakit ini, aku harus tetap optimis. Aku masih ingin melakukan banyak hal sebelum waktuku habis. Termasuk dengan Alex, maaf sudah menyakiti kamu lex. Aku terpaksa meninggalkan kamu supaya kamu nggak sedih waktu lihat aku pergi.
Aku juga nggak bilang ke temen- temen. Soalnya aku mau ngabisin waktuku di antara mereka seperti biasanya. Kalau mereka tahu aku sakit, mereka pasti akan berbuat yang ‘baik- baik’ saja. Dan itu menyebalkan.
Nah, untuk yang sudah baca suratku ini. Tolong sampaikan salamku untuk:
1. Ayah dan Ibu: Jangan terlalu menyepelekan apa yang dikatakan anak. Orang tua lebih banyak pengalaman, dan anak hanyalah anak. Tapi di antara kita tidak ada yang paling benar atau yang paling salah. Maaf, sudah merepotkan kalian selama 20 tahun ini. Akhirnya, kalian bebas dari beban selama ini =)
2. Alex Soetanto: Tenang, banyak cewek cantik yang single menunggumu. Aku selalu berdoa untuk kamu,lex
3. Indra Saputra Utama: Makasi Ndra udah banyak nemenin aku selama dua tahun ini. Rasanya kayak punya kakak cowok. Hehehe. Aku sayang Mas Indra. Maafkan semua kesalahanku ya. Titip salam buat semuanya. Aku sayang kalian selamanya!!!" *** Kami semua berdiri di pemakaman Ira. Hari ini, aku belajar suatu hal yang sangat PENTING untuk hidupku. Kutatap semua yang datang ke pemakaman sore ini satu per satu. Kedua orang tua Ira, mereka terlalu keras mendidik Ira, sampai- sampai mereka sendiri tidak menyadari bahwa putri tunggal mereka tengah berjuang melawan leukimia ganas. Mereka juga tidak pernah merestui hubungan Ira dengan Alex. Sehingga mereka tidak pernah melihat wajah putri kesayangan mereka benar- benar bahagia. Kejadian penolakan Alex itu terjadi ketika Ira baru saja masuk kuliah. Saat itu Ira benar- benar berubah sikap kepada orang tuanya. Sedangkan ketiga teman dekat Ira kini hanya bisa menampakkan wajah sembab. Mereka tidak pernah benar- benar menghargai Ira sampai Ira masuk ke dalam liang lahat dan tidak akan kembali lagi. Mereka berkata padaku kalau mereka menyesal tidak pernah meminta maaf pada Ira sekalipun. Alex. Pria necis yang nampak tegar di pemakaman sore ini. Dia memakai kacamata hitam dan berdiri mematung agak di belakang. Kemudian dia merangkul perempuan yang berdiri di sebelahnya. Itulah kekasih barunya. Indra, seorang cowok bodoh yang selama ini selalu menyembunyikan perasaannya. Tidak pernah mengungkapkan perasaan pada targetnya sampai sang target kini telah tiada. Hanya tersisa kebodohan, penyesalan dan air mata yang mengering di sudut mata. Hanya bisa mengungkapkan kata perpisahan untuk Ira. Si cantik yang tegar.

 


Keikhlasan Cinta

Siang ini langit cukup mendung, matahari telah sedari tadi menyembunyikan diri di balik hitamnya awan tebal. Sekalipun begitu, hujan tak juga turun menyiram bumi. Angin bertiup sepoi-sepoi, sejuk nian terasa. Mengusap wajah-wajah lelah panitia bedah buku yang sejak beberapa minggu lalu mengurus segala sesuatu guna berjalannya acara ini.

Kini wajah-wajah itu terlihat kembali ceria, menyambut para peserta bedah buku, yang mengalir berdatangan. Dengan senyum mengembang. Dan salam terucap.

“Ukhti Fiya, tolong ambilkan sertifikat peserta bagian akhwat yang di bawa Akhi Firman!” Pinta Mbak Fitri padaku. Aku mengangguk, lalu mulai berjalan mencari di mana Akhi Firman sekarang berada.

“Hafidz, antum melihat Akhi Firman?” tanyaku saat melihat Hafidz melintas. Ditangannya tergenggam sebundel tali rafia.

“Mas Firman? Dia ada di meja daftar ulang sama Akhi Rosyid.”

“Waduh…” desisku.

“Ada apa Ukh?” tanya Hafidz melihat responku.
“A… bisa minta tolong, mintakan sertifikat peserta akhwat padanya, ya… saya kan tidak mungkin ke meja daftar ulang ikhwan…” ujarku sambil memohon.

“Waduh, Afwan jiddan Ukh, ini saya lagi di tunggu Ustadz Muhsin, mau benerin hijab di pintu utara.”

“Tapi… ah ya sudahlah… Jazakalloh khoir, biar saya kesana sendiri…”

“Baiklah saya menemui Ustadz Muhsin dulu, Afwan sebelumnya.” Hafidz pun berlalu. Aku hanya mengangguk menjawab pamit Hafidz. Yah… mau bagaimana lagi, aku sendiri yang harus kesana. Cepat kulangkahkan kakiku menuju meja daftar ulang bagian ikhwan sebelum peserta yang datang semakin banyak, dan akhirnya nanti justru akan menyulitkanku sendiri.

Sesampainya di pintu masuk area ikhwan, tiba-tiba saja langkahku terhenti, dadaku serasa bergemuruh, bergejolak demikian hebat, tubuhku terasa panas dingin, tangan dan kakiku bergetar, sudah sejak lama aku tak merasakan perasaan ini, kini, setelah 6 tahun berlalu, perasaan ini kembali ku rasakan.

Kutajamkan pandangan mataku menatap sosok tegap yang kini tengah berbincang dengan Akhi Firman, dan detik itu pulalah ku putuskan, ku urungkan niatku mengambil sertifikat peserta akhwat pada Akhi Firman, akan ku gantikan tugas ini pada yang lain. Aku tak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan lelaki yang sempat mengaduk-aduk perasaanku kini tengah berbincang dengan Akhi Firman.

Tanpa sadar, sebuah nama terucap dari bibirku. “Hawari…”

***
Entah setan darimana yang membujukku, hingga aku berani menulis sebuah surat pernyataan cinta pada adik kelasku. Sungguh, aku sendiri tak tahu, dengan kesadaran penuh kutulis sebuah surat yang menyatakan perasaan cintaku pada adik kelasku, Hawari. Padahal dulunya aku sungguh sangat membencinya. Mungkin benar pepatah jawa yang menyatakan “Gething nyanding” dan “Roso tresno jalaran soko kulino”, dan mungkin saat itu aku sedang terkena karma itu.

Pertemuan pertamaku dengannya, saat aku sedang mengikuti lomba pidato bahasa arab antar kelas di sekolahku.

Suatu hari saat aku sedang duduk menunggu giliranku di panggil, seorang anak laki-laki adik kelasku mendekatiku, ia bertanya padaku.

“Namanya siapa Mbak?”

“Aufiya’ kenapa?” sambil terus fokus mengulang teks pidato ku jawab pertanyaan itu.

“O… jadi ini tho yang namanya Mbak Aufiya, eh Mbak kan yang selalu menang lomba pidato bahasa arab itu, wuih… wah, aku mau liat deh nanti pas Mbak Aufiya maju…” ujarnya sambil nyengir. Tentu saja responnya itu membuatku mengerutkan kening.

“Eh, biasa aja kalii…” sahutku. Ia pun kembali nyengir. Tak berapa lama giliranku pun tiba, seperti biasa, dengan kepercayaan diri yang penuh, kata demi kata meluncur dari bibirku, dengan semangat menggebu-gebu, ku tuturkan ayat-ayat Alloh, sesekali mataku menangkap si adik kelasku itu menatapku penuh kagum, ah… sebenarnya sungguh, aku sangat risih jika ada orang yang sangat terkagum-kagum dengan prestasiku, aku merasa sangat risih jika ada orang yang mengelu-elukanku, bahkan tak jarang teman-teman menjauhiku hanya karena iri dengan guru-guru yang kasih sayangnya berbeda, antara memperlakukanku dengan yang lain.

Beberapa saat kemudian hasil dari lomba-lomba yang diselenggarakan hari itupun di umumkan, dan seperti yang ku duga, juara 1 kembali ku duduki. Bukan bermaksud sombong, sungguh, tapi itulah yang terjadi.

“Mbak Aufiya’, aku sudah menduga, Mbak pasti menang. Gila ternyata keren banget, ga salah deh kalo juri milih Mbak jadi pemenangnya. Traktirannya dong Mbak…” seru si adik kelasku itu, aku mengerutkan kening, melihat perilakunya padaku,
Sok kenal banget sih ni anak… baru juga ketemu dan tau namaku beberapa jam yang lalu, udah minta traktir. Batinku kala itu. Aku pun tak menanggapinya, sekali lagi bukannya aku sombong atau apa, beberapa alasan yang membuatku lebih memilih tak menanggapinya, pertama, karena memang aku tidak suka di puji-puji seperti itu, ke dua, sebenarnya selama ini aku sangat anti dengan yang namanya laki-laki yang bukan siapa-siapaku, ke tiga aku memang tak pernah menanggapi laki-laki manapun yang hanya bermain-main saja denganku. Karena prinsip bukan muhrim yang ku pegang teguh sebagai pedomanku berbaur di sekolah umum seperti ini akan selalu menjadi prinsip hidupku.

Terserah siapapun mau mengatakanku apa, prinsip yang kupegang memang seperti itu, sebaliknya dengan teman-teman perempuan, aku tak pernah memilih-milih, siapapun itu, dengan berbagai latar belakang, aku tetap berteman dengan mereka.

Kembali pada permasalahan awal. Si adik kelas yang belakangan ku ketahui namanya Hawari itu, terus saja mendekatiku, di setiap perkumpulanku dengan teman-temanku, pasti selalu ia sempatkan mampir di antara kami, apa lagi ia cukup akrab dengan teman-temanku yang lain. Tak ada masalah baginya jika ingin bergabung dengan teman-temanku. Apalagi ia tipe laki-laki yang imut, dan menggemaskan buat teman-temanku. Tapi aku tetap pada prinsipku, ia bukanlah mahramku, dan aku tak boleh begitu dekat dengannya.

Hari-hari berlalu, sikapnya padaku semakin menjadi, tak pernah sekalipun ia absen menyapaku di sekolah, menggodaku dengan mengungkit-ungkit prestasiku, dan yang membuatku sangat risih dan kebencianku memuncak, pada suatu hari ia mengungkapkan perasaannya padaku,

“Kenapa sih kamu tuh selalu aja gangguin aku, aku risih tau nggak?!!” seruku kala itu, tanpa ku duga, respon akan gertakkanku, ia mengatakan perasaannya yang membuatku semakin benci padanya.

“Karna aku suka sama Mbak Aufiya!” serunya lalu meninggalkanku. Aku terdiam,
Ah… dasar anak kecil, sudah mikir cinta. Baru juga kelas dua SMP, udah nembak kakak kelas.
Aku tak begitu memikirkan perkataannya itu, hari-hari berlalu, sejak kejadian itu, aku jarang sekali melihatnya, ia tak lagi bergabung dengan teman-temanku, ketika bertemu pun ia tak lagi menggodaku, boro-boro menggoda, menyapa saja tidak. Dan aku pun mulai merasa tenang dengan kehidupanku.

Tapi selang beberapa lama, justru aku merasakan sebuah rasa kehilangan, aku merasa ada yang hilang dari hari-hariku, dan aku sadar, ternyata aku merindukan sapaan Hawari, aku merindukan celoteh-celoteh menyebalkan Hawari, aku merindukan suaranya, aku merindukan senyum liciknya ketika menggodaku. Aku baru sadar, bahwa aku pun mulai menyukainya.

Di saat yang sama, ku rasakan, Hawari seolah sengaja menjauhiku. Lama kelamaan aku mulai tak tahan, itulah, entah setan dari mana, malam itu kutulis sebuah surat kaleng yang isinya tentang ungkapan perasaan cinta yang ditujukan untuk Hawari tapi dalam surat itu juga ku tulis, aku tak ingin berpacaran dengannya, dan itu tak akan pernah ku lakukan. Aku menulis surat itu bukan bermaksud apa-apa, aku hanya ingin mengungkapkan rasa yang selama ini terpendam menyesakkan dada , pagi-pagi sekali aku berangkat kesekolah, dan tanpa pikir panjang aku masuk kekelas Hawari dan meletakkan surat itu di laci mejanya.

Tanpa ku ketahui, ternyata hari itu kelas Hawari di adakan rolling tempat duduk, tentu saja surat yang kuletakkan di laci Hawari di temukan oleh penghuni baru kursi itu.
Sontak kelas Hawari ricuh, berita tentang di temukannya surat kaleng itu menyebar ke seluruh pelosok sekolah.

Keesokan harinya, Sari menemuiku,
“Fiya, yang naruh surat di mejanya Hawari itu kamu?” tanyanya.

“Emmm…” aku tak bisa berkata apa-apa,

“Fiya, Hawari maluu banget, kenapa kamu nggak titipin aja ke aku sih? Kan aman jadinya?” ujar Sari padaku. Aku masih terdiam.

“Sari, tolong, jangan sampai ada yang tahu kalau aku yang nulis surat itu, aku… aku nyesel banget, entah setan dari mana yang membujukku hingga aku berani nulis surat itu, nggak seharusnya aku nulis surat itu. padahal aku tahu itu bisa saja mendekati zina, aku tahu itu dosa, ya Alloh… aku .. aku nyesel banget Saa…”

“Tapi Hawari udah tau kalo itu kamu yang nulis….”

“Kok bisa tau?” sambil menyeka air mata, ku dongakkan kepalaku.

“Dia udah ngrasa, kalau itu dari kamu, dia hafal tulisan kamu,”

“Trus responnya gimana? Dia marah?” Tanyaku, Sari diam, tanpa ia menjawabpun, aku tahu jawabannya. Aku mendesah. Tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, rasa malu, bersalah takut campur menadi satu. Aku sangat malu, apa lagi jika nanti bertemu dengan Hawari. terserah dia akan mengiraku perempun murahan, berani mengungkapkan perasaanya pada laki-laki, ia tak tahu! Aku sangat menyesal melakukan itu. Aku hilaf, benar-benar khilaf.

***

“Ukhti, mana sertifikatnya?” Seru sebuah suara membuyarkan lamunan masa laluku. Aku tergagap, mataku masih tertuju pada sosok Hawari, kini ia tumbuh menjadi seorang ikhwan yang sungguh menawan.

“A… Afwan Mbak Fit, Mbak Fitri saja yang mengambil ya… saya tidak bisa.. sekali lagi afwan…” Kataku sambil berlalu meninggalkan Mbak Fitri yang masih terheran-heran dengan sikapku. Aku tak sanggup jika harus bertemu dan bertatap muka dengan Hawari, sungguh tak sanggup. Bayangan masa lalu yang memalukan, akan kembali menari di pelupuk mataku.

Jika memang hawari bukan jodohku. Biarlah hati ini terbuka untuk yang lain jika sudah saatnya nanti. Ya Alloh, jauhkan hati ini dari hal-hal yang membuatMu murka.

 


Karenamu Aku Mengerti

Takengon masih dengan suasana seperti hari-hari sebelumnya sejuk dan dingin bagi para pengunjung Laut Tawar ini. Tak seorangpun dari kelompok kami yang beranjak meninggalankan tenda apalagi untuk beraktifitas terasa sangat menyiksa. Di Lhokseumawe cuaca tidak sedingin ini, jadi wajar saja satupun dari tidak ada yang beraktifitas lagi hari ini. Ujung jari-jariku seakan mau membeku, suhu tubuh yang unik. Cuaca ini tak mampu menghalangi seluruh minat yang telah persiapkan kurang lebih dua halaman doble folio jika kutuangkan dalam bentuk tulisan. Aku seorang manusia biasa yang sangat ingin diperhatikan di semua tempat yang aku tapaki. Hidup mengajarkan kita untuk menjadi egois dan tak peduli bagaimanapun cara untuk dapat menggapainya.
Pagi yang menyenangkan, hatiku membisikkan kata-kata itu. Bagaikan mendapatkan mimpi menjadi kenyataan di pagi ini. Tiba-tiba aku melihat Ardi berjalan ke arahku.
“Ngapain Vina??” tanyanya
Aku tersenyum tipis, “lagi menikmati suasana hening”
“ada yang mau aku tanyain sama kamu”
“kalau gak penting-penting banget mendingan kamu tinggalin aku sendirian, lagi bete abis”
“Sepertinya, hal sangat penting yang mau ku bicarakan” dengan ekspresi lucunya
“apaan coba??” kata ku sambil tertawa melihat mimik anehnya
“kenapa kamu suka banget sama warna hijau?”
“itu hal penting yang ingin kamu bicarakan??” tanyaku
“hu’uh”
Aku teringat asal mula warna hijau itu menjadi salah satu warna favoritku, bukan karena aku terlalu suka warna itu, tapi karena dengan menyukai warna itu dia akan terus berada dalam hatiku. Saat pertama aku bertemu denganya, warna hijau yang menempel di tubuhnya membuat mataku merasa menemukan sesuatu yang telah lama hilang dalam jiwaku. Sejak itulah aku mulai memblock hijau salah satu warna favoritku. Walaupun, sampai saat ini hatiku masih membeku layaknya salju di daerah kutub. Gambaran kepribadiaanku tidak sedikutpun tercermin dari warna hijau, warna birulah yang lebih menduduki tempat di hatiku. Hijau hanya ada dalam pikiranku bukan hatiku. Mungkin ini yang membuat hampir semua teman dekatku kebingungan dengan status favorit untuk warna favoritku.
“Hello……kok bengong sih waktu ditanyaiin ?? jikalau Anda tidak bersedia menjawabnya, Saya tidak akan memaksa!!” serunya
“Enak aja dilihat” jawabku
“What?? Just it!!! Impossible, kamu pasti tahu cewek-cewek tu semua suka warna merah jambu, feminim-feminim gimana gitu!”
“Mau ngejek aku??? Aku ya aku, ngapain juga jadi manusia hasil copy paste coba!” jawabku
“oke deh.. aku terima alasan kamu” Ardi pasrah
Tidak ada gunanya juga berdebat panjang dengan seorang Sarvina Adhita, hampir seluruh sekolah juga tau siapa Vina, cewek pintar juga cantik dari keluarga bercukupan tapi sangat jarang tersenyum ikhlas dari hatinya. Ardi mempunyai keyakinan sikap Vina yang selama ini jutek disebabkan suatu hal yang belum pernah diceritakannya pada seorangpun, sehingga permaslahannya masih berbentuk bongkahan dalam hatinya. Bongkahan itu sekuat batu karang yang ada di lautan yang sangat sulit untuk dihancurkan. Tapi Ardi salah besar, Vina menceritakan seluruh masalah yang membungakan dalam hatinya pada seorang malaikat penolongnya.
“Napa kamu bengong??” seru Vina mengagetkan lamunan Ardi.
“Ngak ada…” desah Ardi
“bohong besar tau, kamu tu suka banget ngelamum”
“siapa bilang coba?? Aku tu suka ngelamum!!” bantah Ardi
“Ayah, Bunda bahkan nenek Suwardi yang bilang” celetuk Vina
Ardi harus mengakui hal tersebut. Bagaimana aku bisa cerita sama kamu Vin masalah yang aku hadapi, kamu sendiri sudah banyak berubah dalam rentang waktu 5 tahun ini. Kamu bukan lagi Sarvina Adhita yang aku kenal. Kamu bukan orang lagi seorang sahabat yang tersenyum tulus saat berjumpa denganmu. Kamu yang sekarang lebih banyak diam dan seolah-olah ada yang membalikkan seluruh kebahagianku saat ku melihat sekarang. Kamu lebih banyak sendiri dibandingkan bercengkeraman dengan teman-teman yang lain, lebih senang belajar. Seolah-olah kegiatan yang lainnya tak bernilai dimatamu. Saat teman-teman mengunjungi saat Kau sedang sakitpun kau masih belajar. Dimana sikap manja seorang Sarvina Adhita yang sangat kunhafal itu menghilang. Dulu saat kau sakit sedikitpun kau pasti meraung-raung sepanjang hari sampai semua orang bosan menghiburmu. Tapi aku tak pernah bosan Vin karena setelah aku mengerti apa itu arti cinta, ternyata cintaku sudah mulai bermekaran di hatiku untuk mu saat kita masih kecil. Aku sangat menyukai cara kau mengadu kepadaku saat masalah menghujani hati dan pikiranmu. Tapi sekarang semua itu telah berubah.
“Vinaa…” teriak Indri dari dalam tenda
“Ada apa indri ?” tanyaku
“Kamu lihat kompas aku gak” serunya sambil keluar dari dalam tenda. Ardi kemudian menoleh ke arah indri. Sambil menyapanya “hai”
“hai juga” kaku banget sih jadi orang kata indri dalam hatinya.
“Kompas kamu ada tu dalam tas ransel aku, makanya non kalau narok barang tu jangan seenak jidat aja” jawab Vina ketus
“alhamdulillahkan aku yang nemuin, jadi aku masokin aja dalam tas” sambung Vina.
“makasih ya …” ucap indri sambil masuk ke dalam tenda untuk mengambil kompasnya.
“Eh, aku duluan ya, takotnya mereka nyariin aku dari tadi”
“Ok …” jawab Vina
Ardi berjalan menjauhi tenda Vina menuju ke tempatnya.
“vina kapan kamu bisa welcome sedikit aja buat orang yang ngedekatin kamu” sambar indri dari dalam tenda.
“rese amat sih, jadi aku harus gimana coba??”
“suka itu tidak bisa dipaksakan” sambung Vina
“iya aku tau Vina sayang” jawab indri bijaksana. Jarang-jarang seorang indri bisa bijaksana bisa dikatakan itu suatu mu’jizat dari langit.
“ada yang salah aku ngomong”
“tenang aja malaikat Jibril gak akan turun lagi, wahyu udah habis turun semua” sambung indri sambil tersenyum melihat mimik Vina yang melongo.
“bisa masuk lalat tu Vin” canda indri
“aku udah pernah ceritakan sama kamu!”
“bukan masalah kamu udah perna cerita atau belum sekarang ini”
“melepaskan yang sudah tergenggam itu sulit banget, tapi memcoba tidak melepaskan hal-hal yang belum tergenggam itu KONYOL” lanjut indri marah, sudah berkali kali ia mengingatkan sahabatnya yang satu ini.
Masalah hanya satu tapi tak pernah mencoba untuk mencari solusinya, walaupun solusinya didapatkan tapi diacuhkan mentah-mentah. Bagaikan memberikan garam ke dalam air yang sudah sangat asin, sehingga si pemilik membuangnya. Dasar vina keluh indri kapan kamu tu bisa melupakan pangeran tampanmu bermahkota hijau?.
“daripada kita berantem karena masalah itu mendingan kamu bantuin aku beres-beres perlengkapan kita sebelum kembali ke Lhokseumawe”
“Ok BOSSS….”sahut Vina cepat
“Apa yang salah dengan diriku” pikir vina
Tidak seharusnya aku masih memikirkan dia, indri benar mencoba tidak melepaskan hal yang belum tergenggam itu hal yang konyol. Lima tahun lalu tepatnya saat kepergiaan abang kesanyangganku, kebanggaanku, juga merupakan penasehat terbaik dalam hidupku. Ayah dan Ibu hanya menangis sesegukan saat itu, kemudian tidak dalam jangka waktu yang lama kembali dengan kesibukan mereka selama ini. Tinggallah aku sendiri tanpa abang di rumah.
Saat itulah aku bertemu dengan tepat saat pembagian rapor kelas 2 SMPku. Ternyata Dia adalah sahabat terbaik abang kesayanganku. Dia datang dengan menggunakan kaos hijau yang sangat pantas untuk kulit putihnya. Dia datang untuk mencari abangku. Saat itulah aku menangis kembali setelah sekian lama aku berusaha melupakan kejadian itu. Dia mencoba menenangkanku. Aku menceritakan apa yang telah terjadi dengan Bang Fadhil.
“kamu tidak pernah kehilangan Fadhil” katanya
“selama kamu masih mengingatnya, ia selalu ada di dalam hatimu. Itu lebih penting!” sambungnya.
Setelah itu percakapan kami berlanjut dengan seru. Ternyata Dia pendengar yang baik sekaligus lawan bicara yang bisa diandalkan. Sejak saat itulah aku mulai mengenalnya dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan yang tak kusangka-sangka. Entah bagaimana mataku selalu menghubungkan sesuatu kejadian itu dengan kata TAKDIR.
“kamu mau bantuin aku atau mau melamun” indri membuyarkan lamunanku.
“yookk…” pangil Ardi dari luar tenda
“udah pada ngumpul tu”
“iya …ya kita udah siap ni Di” sahut indri
Kami berjalan berbarengan. Banyak sekali siswi yang kurang suka sama Vina. Manusia mana coba bisa menyukai vina yang egois, sok cantik, sok pintar dan hal lain yang melekat pada diri vina dalam benak mereka. Apalagi Ardi menyukainya. Ardi cowok paling diincar di sekolah. Ganteng, Pintar, Ketua OSIS, anak orang berada lagi. Ardi mendapat nilai plus karena dia sangat pengertian.
Vina bukannya tidak mengetahui padangan-pandangan mematikan dari teman-temannya. Masa bodoh itulah vina yang pentingkan ia tidak menyukai Ardi. Itulah yang selalu membuat indri heran dengan setiap tindakan Vina.
Dalam perjalanan pulang, ardi meminta pada indri agar ia dapat duduk dengan vina.
“kok kamu?” tanya vina heran dengan perubahan posisi yang terjadi
“memangnya gak bole, biar aku pindah”
“bukannya aku tu gak mau duduk sama kamu, tapi takotnya para fans kamu narik jelbab aku”
“oooohhh jadi kamu tu mau berantem demi aku?” tanyanya sok penting
“males ahh… berantem, kamu tu boleh duduk di sini tapi jangan ngeganggu aku titik. Tidak ada yang boleh bantah” kata Vina.
Ardi hanya mengangguk. Sejak saat itulah vina mulai menyukai warna hijau, belajar lebih giat dari sebelumnya, agar selalu mendapat pujian darinya. Dia berjanji pada vina, jika vina mendapatkan juara pertama dia akan menyempatkan diri untuk datang melihat proses penyerahan hadiah di sekolah vina. Vina terus belajar dengan harapan agar bisa kembali bertemu dengannya. Karenamu pula aku tidak pernah bisa melihat yang lainnya. Tapi saat pembagian rapor tahun kemarin dia datang dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Jelbab yang menutupi kepalanya dengan baju gamis yang dikenakannya serta tatapan teduhnya membuat vina tidak bisa marah saat kau mengatakan dia adalah orang terakhir dalam penantiannya selama ini. Aku mengerti semua itu akan terjadi sudah saatnya aku tidak lagi menyalahkan takdir yang menimpa diriku.
Aku turun dari mobil yang kami tumpangi. Dengan semua masalah yang kutinggalkan dalam mobil. Tujuanku tercapai untuk melupakan semuanya. Dan memulai sesuatu yang baru yang lebih bermakna.
semua orang harus merasakan nikmatnya angin…
tanpa angin, daun-daun tua tak pernah terjatuh,,,
karena anginlah kita dapat melihat hijaunya daun…
karena angin…
karena angin…
karena angin…